Sebuah Cerita

Tentang sebuah jembatan di pinggir pantai, yang tiang-tiangnya selalu diterjang ombak ketika pasang. Tentang pegangan besi di kanan-kirinya yang telah berkarat. Tentang manusia-manusia yang menapaki langkah diatasnya. Serta cahaya senja dari barat yang menjadikannya cerita. “Semua terlihat indah” kataku pelan.

Ku tak terlalu paham panjang jembatan itu. Hanya diujungnya ada sebuah Pura dan banyak orang disana yang sibuk membuat cerita untuk media sosialnya. Sedikit memuakkan memang. Mengapa tak membuat cerita untuk dirinya sendiri ? atau setidaknya jangan mengganggu cerita orang lain. Kadang ku rindu sebuah perjalanan yang melelahkan tanpa banyak memikirkan angle yang cocok untuk berfoto. Kemudian pulang dengan banyak cerita dan tidur.

Pantai Balekambang.jpg

Sumber: https://utiket.com

Beberapa senti di depan ku, ada sepasang langkah. Menapaki jembatan menuju Pura. Langkahnya stabil tanpa jeda. Ku mengikutinya. Di ujung jembatan, langkah itu berhenti sejenak. Pikirku mungkin dia sedang mengambil nafas panjang. Tidak lama, langkah itu kembali. Aku mengikutinya lagi. Beberapa kali langkahnya beriringan dengan langkahku. Tidak banyak yang kita bicarakan, hanya melangkah dan tertawa secukupnya.

Sore itu, laut sedang surut. Langkah kakinya beralih menyusuri karang-karang di bawah jembatan. Langkahku ikut serta bersamanya. Ada yang menarik perhatian, sehingga langkahnya terhenti, ikan-ikan kecil yang bersembunyi dibalik karang misalnya atau kepiting-kepiting yang bersembunyi ketika didatangi. Juga koin-koin kuno yang mungkin sengaja dilemparkan dari atas Pura.

Tapi waktu berlalu singkat. Mungkin sebentar lagi matahari akan sekarat. Langkahnya berjalan menepi ke pesisir. Kemudian kita duduk memandang jauh ke laut. Beberapa kali dia bercerita hal-hal lucu, tentang kartun Spongebob yang tak pernah bosan kita tonton, hingga tokoh figuran dalam film Ice Age – Scrat, ikon yang tak terpisahkankan dari film itu karena opsesinya mengejar kacang.

Mungkin jika senja punya mata, ditengah sekaratnya, dia akan melihat kita tertawa. Kemudian pulang dengan sebuah cerita.

Iklan

Tabahmu Pura-Pura

Distasiun Kota

Kamu pandangi raga tak bernyawa

Wajahmu terlihat datar-datar saja

Diantara ribuan orang yang penasaran

Hanya kamu yang tetap diam

Tanpa suara

Ku hanya bisa memandang

Dari dunia yang katanya berbeda

Bukan disengaja

Meninggalkanmu dengan kenangan sekadarnya

Dengan tubuh tercecer di rel kereta

Kasih, Tabahmu pura-pura

Kamu & Dia

Kamu hanya mampu mengawang punggungnya dari ujung batas dimensimu. Dia punya dunia sendiri yang tak akan kamu mengerti. Barangkali dia yang kamu tunggu di batas tepian curam itu hanya mengatung-ngatung hatimu. Tapi kamu tetap tak ingin tahu. Kamu tepis semua cibiran tentang dia. Kamu bungkus cibiran itu dan terlemparlah di aliran sungai.

Dia selalu jadi bidadarimu. Melebihi apapun termasuk tokoh-tokoh imajiner yang kamu kagumi sedari kecil. Terlepas dari ruang dan waktu yang memaksamu berhenti sejenak. Dia terasa asing bagimu. Tidak ada kamu dalam hatinya, itulah yang kamu lihat dimatanya beberapa bulan lalu. Matanya mengawang-awang. Kamu selalu berharap dia tidak berubah – dia akan tetap mencintaimu. Tapi semua pasti akan berubah. Dunia berubah. Dia berubah. Semua berubah. Begitupun cinta yang bertransformasi. Dia tidak lagi punya ruang untukmu singgah. Tapi kamu tetaplah seperti itu, sengaja kamu butakan matamu, juga kamu tulikan telingamu. Kamu takut. Kamu takut kehilangan dia, kekasihmu.

Lama dirimu menunggu. Begitu lama. Sangat lama. Tapi tak pernah terlintas diotakmu untuk sejenak saja melupakan dia. Kamu biarkan rasa itu tumbuh. Seperti pohon. Terus tumbuh, bahkan ranting-ranting nya sudah menelusuk keluar kepalamu. Sengaja kamu biarkan dedaunannya tumbuh dimata juga ditelingamu. Mungkin juga akan tumbuh di mulutmu, agar kau bisu dan tak lagi dapat menjawab pertanyaan teman seangkatanmu – kapan nikah?. Pertanyaan itu acap kali memaksamu meringis merasakan hatimu yang terus-menerus teriris.

images.jpg

sumber: http://www.magic4walls.com

Kamu begitu mengagung-agungkan cinta, khalayak dewa. Semua kamu kerahkan atas nama cinta. Kalian yang dulu tersenyum malu saat saling menatap. Kalian yang punya ruang di hati untuk saling singgah. Tapi kamu terpana. Kamu memikirkan kebahagianmu sendiri. Kamu mengenggamnya terlalu erat. Sampai pada saat kalian merasa nyilu. Ada yang tiba-tiba merenggang dan menangislah kamu sebab dia melangkah pergi dan tak satupun jarimu mampu menggapai dia – di batas dimensi yang kamu mengerti.

Sekalipun kamu masih kekasihnya. Dia pergi sendiri. Tidak butuh kamu disampingnya. Sampai pada senja di suatu hari dia benar-benar ingin tinggal di dimensi yang tak kamu mengerti. Kamu tak bisa menepis. Kamu hanya bisa menangis.

Untuk waktu yang lama kamu menunggu. Tak sejengkal pun dirimu berpindah ke lain hati. Tak sesenti pun dirimu beranjak dari ujung batas kemampuanmu. Kamu terus menunggu. Bahkan kamu tak segan mengetuk pintu ke pintu, berharap ada yang membantumu membawa dia kembali. Kamu seakan sudah lupa dengan ruang dan waktu. Mereka terus berjalan pun dirimu. Sepertinya benar, dedaunan itu juga sudah membisukan mulutmu. Kamu sudah sangat mirip dengannya. Ada dimensi lain di otakmu. Tapi kamu tetap tak bisa bertemu. Sebab dimensi itu lahir dari pikiran kalian masing-masing. Dan tak ada secuil celah untuk bahkan saling mengintip.

Dimensi  yang kini kamu tinggali hanya sebatas persinggahan untuk melupakan sejenak waktu yang menarik dirimu dari jarak terdekatmu dengan dia. Kamu tidak benar-benar nyaman disana. Otakmu masih waras. Hanya dia yang kamu cintai yang bisa nyaman seperti duduk dikursi goyang.

Malam yang suram semakin membuatmu bimbang. Kamu menatap dalam bintang di langit dan bayangan dia tetap ikut serta. Ada yang mengharapkan bintang jatuh saat ini. Di beberapa dongeng bintang jatuh selalu di katakan dapat mengabulkan harapan. Kamu berharap dia lekas kembali ke dimensi yang kamu pahami. Kemudian berbahagialah kalian dalam bunga-bunga yang kembali merekah. Lalu bersandinglah kalian di pernikahan. Mungkin setelahnya kalian akan hidup bahagia, berbicara mengenai anak-anak kalian yang lucu juga bunga-bunga dipekarangan. Sungguh Indah.

Disudut lain ada aku yang juga berharap pada selintas cahaya bintang jatuh. Ku berharap kamu letakkan dia di tempat yang tak akan mampu kamu telusuri. Sekalipun kamu tahu dia dirawat di salah satu Rumah Sakit Jiwa di Kota ini. Kemudian terhempaslah dia di tempat yang tak lagi bisa kamu temui. Tempat tak bertepi. Ya tempat dimana dia akan mengambang di samudera yang maha luas dan tak akan menepi di sudut terkecil dalam hati maupun bayanganmu. Seperti kisah-kisah yang berakhir bahagia, tinggallah aku dan kamu, menepi berdua di dimensi yang sama.

Tapi ini hanya isi kepalaku. Tentang kamu dan dia. Bukan aku.

Istirahatlah Kata-Kata

Istirahatlah Kata-Kata

Produser: Yosep Anggi Noen, Yulia Evina Bhara

Sutradara: Yosep Anggi Noen

Penulis: Yosep Anggi Noen

Pemeran: Gunawan Maryanto, Marissa Anita

Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen Istirahatlah Kata-kata mengambil sepenggal kisah Wiji Thukul selama masa pelarian, ketika dia dan teman-teman seperjuangannya ditetapkan sebagai tersangka atas peristiwa 26 Juli 1996. Berbeda dengan film-film bertema sejarah lain yang terlebih dahulu menampilkan latarbelakang sebelum masuk pada fokus utama, dalam film ini Yosep bahkan hanya menampilkan teks pendek mengenai kisah Wiji Thukul sebelum jadi buronan politik.

Siul lagu darah juang menjadi musik pembuka yang cukup menarik perhatian para penonton, terlebih bagi para aktivis, lagu ini tentu akan menggetarkan hatinya. Dengan fokus utama kisah pelarian Wiji di Pontianak, film ini lebih banyak berbicara dalam diam. Mengapa demikian? Karena dalam film ini kita tak banyak menemui dialog pun musik. Seperti judulnya”Istirahatlah Kata-Kata” Yosep membawa penonton pada pendekatan yang sunyi.

Gunawan Maryanto berhasil menampilkan sosok Wiji Thukul yang tertekan, penuh ketakutan serta bercampur kemarahan karena merindukan keluarganya. Terlebih Gunawan Maryanto memiliki rambut dan gestur tubuh yang hampir sama dengan Wiji. Ketakutan Wiji digambarkan dalam beberapa adegan, seperti ketika Wiji sedang di salon. Saat itu ia berjumpa dengan salah satu tentara yang sedang memangkas rambut. Tak banyak kata-kata yang meluncur dari mulutnya, wajahnya ditenggelamkan dalam topi untuk menutupi identitasnya.

get.jpg

Sumber: http://www.pardolive.ch

Dalam beberapa adegan penonton juga dibawa untuk melihat kehidupan Sipon, istri Wiji Thukul yang dimainkan cukup apik oleh Marissa Anita. Marissa berhasil menggambarkan sosok Sipon yang berusaha tegar dalam mengahadapi berbagai intimidasi dari aparat. Sipon yang menunggu kepulangan Wiji dan harus merawat kedua anaknya yaitu Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah.

Film ini ditutup dengan pertemuan Wiji Thukul dengan Sipon di rumahnya yang berada di Solo, sebelum Wiji Thukul dinyatakan hilang. Istirahatlah kata-kata bukan sebuah film yang mengulas seluruh kehidupan Wiji Thukul, dia hadir sekedar sebagai pengingat bahwa pernah ada  seorang aktivis pejuang demokrasi yang menjadi buronan politik karena syair-syairnya. Seorang penyair ulung yang hidup dibawah tekanan sebuah rezim.

Lelaki dari Langit

Aku menemukannya. Dia tersesat. Dan akulah yang menemukannya. Untuk waktu yang lama kami terdiam. Waktu berdetik. Jantungku yang berdetak. Sudah lama aku mencarinya. Malam selalu jadi pencarian panjang. Setelahnya pagi selalu menjadi akhir dari pencarian. Sesekali aku tersesat. Tak tau arah pulang. Sejenak pernah aku melupakannya. Aku jatuh dipelukan para kijang, tapi hanya dia yang begitu menghangatkan.

‘Aku dari langit’ katanya. Sepertinya dia sedang mabuk. Ocehannya ngelantur. Aku tidak percaya dengannya. Dia bahkan tidak punya sayap. Dia tidak tampak seperti malaikat. Dia juga tidak punya karpet terbang layaknya Aladin. Aku tak menjawab. Hanya mengangguk, mengiyakan ucapannya.

Tangan kananku diraih. Tangannya sangat dingin. Aku tersentak kaget, sontak kutarik tanganku. ‘Tak apa, Sayang’ katanya. Kemudian diraihnya lagi tanganku. Mungkin dia sedang sakit, wajahnya putih pucat, tapi bibirnya tetap merah merekah. Digenggamnya erat tanganku. Dingin. Kemudian diciuminya punggung tanganku. Aku dibuatnya terpana. Terposana untuk kesekian kalinya. Aku berusaha menahan untuk tidak mudah jatuh hati padanya. Kurasa dia memang mudah untuk dicintai.

Dia duduk disampingku. Di atas bangku panjang terbuat dari kayu yang sedikit lapuk. Ada rasa was-was takut jika tiba-tiba bangku ini rubuh. Suasana taman sangat sepi malam ini. Yang terdengar hanya sayup-sayup suara jangkrik taman, yang terus mendendangkan alunan nada yang tak ku mengerti arasemennya. Tak ada pengunjung lain. Pun pemandangannya, tak ada yang menarik di taman ini. Karena memang taman ini sudah terbengkalai. Tak ada yang mengurusnya, mungkin karena masalah dana. Pemda membiarkannya begitu saja. Hanya langit sedang cerah dan lampu taman yang konslet. Hidup – mati – hidup – mati begitu seterusnya.

Matanya terus memandangi wajahku. Setelah mencium punggung tanganku, kini dia menciumi satu persatu jemariku. Caranya mencium jariku seperti sedang mengeja pikiranku. Dia mengeja kata demi kata dari raut wajahku. Dia mendekat. Jantungku berdebar. Tangan dinginnya membelaiku dari belakang. Dentum didadaku semakin kencang.

‘Sedang apa kau kesini’ kuberanikan diri membelai rambutnya. Tanganku sedikit bergetar. Menahan dentuman manis di dadaku.

Dia tertawa lepas.  ‘Bukankah kau mencariku?’ tanyanya.

Aku memang mencarinya. Tapi bagaimana dia tau bahwa aku mencarinya?  aku tak pernah mengatakan pada siapapun. Aku bahkan tidak punya teman. Seingatku hanya mengadukannya pada peri khayalanku yang ku reka setiap akan tidur, bahwa aku merindukannya. Lagi pula dia juga tidak akan mengetahuinya.

‘Aku datang untuk mu. Kau telah menemukanku. Bukankah kau merindukanku?  itukan kau ceritakan pada peri khayalanmu.’ Dia tertawa lagi. ‘Kau pikir peri itu ada dan  akan mendengarnya? Tidak sayang. Aku yang setiap malam mendengarkan cerita-ceritamu. Aku selalu mendengarnya’.

Aku tidak habis pikir dengannya.  Dia benar-benar membaca pikiranku. Apa mungkin sekarang dia ahli nujum atau dia dukun. Lebih mengerikan lagi jika dia penyihir. Dia bisa saja mengubahku menjadi apapun yang dia mau. Pikiranku semakin terbang jauh kemana-mana dibuatnya.

‘Jika setiap malam kau mendengar cerita-ceritaku pada peri khayalanku, lalu kenapa kau baru datang? Apa kau tidak berani turun ke Bumi? Apa kau disana sakit? Apa kau tidak punya kekuatan? Apa sayap mu hilang? Apa karpet terbangmu diambil Aladin? Apa lagi?’ tanyaku padanya.

Dia tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Sepertinya pertanyaanku benar-benar menggelikan baginya. Kuingat-ingat lagi pertanyaanku yang terucap beberapa detik lalu. Apakah pertanyaanku lucu baginya? Tidak ada yang lucu. Lagi pula aku hanya mengimbangi leluconnya tadi. Bukankah dia yang memulai leluconnya. Dari atas langit. Siapa yang akan percaya hal itu.

‘Apa kau sedang mengkhawatirkanku? Begitukah?’ Tanyanya setelah tertawa keras.

Aku tak menjawab. Aku terdiam, karena tak tau harus menjawab apa. Pertanyaannya seperti menamparku. Mungkin benar aku mengkhawatirkannya. Kemudian kami terdiam cukup lama. Kami berpesta dalam bisu. Mata yang lebih banyak bicara.  Dia terus menatap mataku. Dia tahu apa yang ku bicarakan lewat mataku. Dia membaca pikiranku.  Aku tidak bisa mengeja pikirannya.

Aku masih tidak mengerti dengannya. Tentang dia yang tiba-tiba hadir lagi. Tentang imajinasinya. Tentang dunia di atas langit dan tentang dia yang terus saja membaca pikiranku. Apa yang kini disampingku benar-benar dia? Aku sangat kacau saat ini sampai-sampai tak sadar bahwa sedari tadi dia masih menggenggam tanganku. Benar tangannya sangat dingin. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Bagaimana bisa dia sedingin ini.

‘Kamu pasti bingung kenapa aku sangat dingin? Kau tak perlu takut, Sayang. Aku baik-baik saja. Aku dari atas langit jadi aku kedinginan. Disana tak kutemui bidadari seperti dirimu. Tak ada yang memelukku. Disana sangat dingin. Apa kau begitu khawatir? Seperti itukah?’

Sialan. Dia membaca pikiranku lagi. Dia membuatku marah pun juga tersipu. Pasti kali ini wajahku memerah. Dari atas langit. Omong kosong apalagi yang dia ucapkan. Lagi pula aku tidak akan percaya dengan hal-hal tahayul. Tentang suatu negeri di langit, bidadari dan omong kosong lainnya itu. Hal tersebut hanya hidup dalam dongeng. Aku tidak hidup dalam dongeng.

Menurutku dongeng hanya hidup dalam imajinasi. Sekedar memperindah hidup sejenak, sebelum benar-benar mengenal kehidupan. Sepertinya dia masih tak mau melepas imajinasinya saat ini. Mempercayai dongeng adalah hal bodoh pikirku.

‘Ikutlah denganku. Hidup bersamaku di langit. Aku akan membuatmu bahagia. Kau tidak akan kehilanganku lagi. Kau tak perlu mencariku. Aku akan selalu disampingmu’ Dia memohon padaku. Wajahnya memelas, seperti kucing yang memelas minta diberi ikan.

Bibirku bergetar. Mungkin seluruh tubuhku bergetar. ‘Aaaa ku tidak punya sayap’ jawabku terbata-bata.

Dia melepaskan genggamannya. Kami tak lagi saling berhadap. Kami memilih menatap kedepan. Melihat lampu taman yang konslet. Hidup – mati seperti kita. Sepertinya dia kecewa. Tapi tak ada kemarahan dalam raut wajahnya. Dia tetap tersenyum saat aku menolaknya.

Cukup lama kami terdiam. Aku tak berani memulai pembicaraan. Kemudian wajahnya berpaling di dekat telingaku. Aku pun menoleh tepat didepan matanya. Mata coklatnya menatapku begitu dalam. Wajahnya terlihat sangat tampan. Aku terbius olehnya.

Kini bibir merah merekahnya hanya berjarak beberapa senti dari bibirku. Nafasnya begitu jelas kurasakan. Jantungku berdebar semakin tidak karuan. Pandangannya beralih. Dia menatap bibirku.

‘Aku tak bisa ikut denganmu’ ucapku pelan padanya. Aku berusaha menetralkan jantungku yang berdebar kencang. Dia tidak menjawab. Dia semakin mendekat. Tak banyak yang dapat kulakukan. Kemudian ku pejamkan mataku. Beberapa detik berlalu dan tak terjadi apa-apa. Aku masih memejamkan mataku. Mungkin dia, entahlah. Tiba-tiba kudengar dia tertawa terbahak-bahak. Aku terkejut dan membuka mataku.

“Kamu ngapain memejamkan mata? Oh jangan-jangan kamu pikir aku  akan menciummu? Benarkah?” Dia tertawa lagi

“e… tidak. Kamu saja yang GR. Aku tadi…” Belum habis ku menjawab tiba-tiba dia memelukku. Dia berbisik ditelingaku. “Aku akan pergi sekarang. Jika kamu merindukanku lihat saja langit. Aku ada disana”

Dia berdiri. Langkah kaki membawanya pergi. Beberapa langkah dia berjalan. Dia terhenti sejenak. Menoleh padaku, melemparkan senyum manisnya. Kemudian secepat kilat dia terbang ke langit. Benar-benar menghempas ke langit. Aku seperti tidak percaya. Ku garuk mataku berkali-kali. Dia sungguh terbang. Dia terbang tanpa sayap.

Sedetik yang detak. Aku duduk sendiri. Aku kehilangannya lagi. Dia terbang ke langit tanpaku. Apa dia akan mengunjungiku? Apa mungkin aku menyesal tidak ikut bersamanya?

Sedetik berikutnya aku terbangun. Melihat sekitarku. Aku tak lagi sedang di taman. Aku juga tak lagi duduk dibangku panjang. Aku  tidur diatas tempat tidurku. Aku dikamarku. Kemudian aku tersenyum tipis melihat jendela.  Matahari sudah tersenyum girang disana, menertawai ku yang telat pergi ke kantor. Aku juga melewatkan sarapan pagi, karena ini sudah hampir tengah hari. Suara alarm tak mampu mengganggu tidurku yang pulas.

Mimpi semalam terasa begitu nyata.

Laki-laki dari langit itu….

Apakah dia akan hadir lagi? Arghhh untuk kesekian kali aku lupa menanyakan namanya.

 

 

 

Tempat Tak Bertepi

Malamku lekat dengan sunyi, kasihku hilang menengelanah dimensi. Hatiku membiru, gigil karena terlalu merindumu. Pikirku buntu menerawang dimana sosokmu berlalu.

Kau datang seperti bayang senja yang menghangatkan. Menabur rasa demi rasa dan semua terjadi kasih. Aku mencintaimu saat itu: saat pertama kalinya kau berkata bahwa aku lah yang mencitaimu. Tapi semua terlewati teramat cepat bagai angin yang membawa debu beterbangan. Kau pergi menghilang tanpa kata pisah, kau melupakan janji cinta mu saat senja tengah sekarat melawan kegelapan.

Dan adakah yang lebih lara dari hati yang terlanjur menaruh rasa namun ditinggalkan adanya? Lama begitu lama ku biarkan hatiku berdebu, menutup hati barangkali kau akan kembali. Lama begitu lama aku mencarimu dalam labirin yang tak berujung. Dan lama begitu lama aku menaruh harap padamu kasih. Tapi apalah arti dari semua ini bila yang dinanti menutup peduli.

Kini ku putuskan untuk berhenti mencarimu. Bukan kaki yang tak mampu lagi melangkah, bukan mata yang tak lagi dapat menatapmu, bukan juga hati yang tak lagi menyimpan rasa padamu. Tapi karena aku tak ingin hati ini tersakiti lebih lama lagi.

Telah kutempatkan kenangan pada tempat yang indah:di tempat tak bertepi. Ku tata apik tempat itu dan kau tahu kasih kupastikan tempat itu tak akan hilang oleh waktu. Dia selalu ada di hatiku. Dan ku harap ku dapat menemukan kepingan hati yang baru.

Malang, 10 Oktober 2015

18

 

Malam ini waktu terasa begitu panjang, langit masih saja tak berbintang, udara dingin kota Malang menembus tulang dan senada dengan rindu ku yang masih dirundung kegelisahanaan.

Aku menunduk. Melihat jari-jari tanganku saling terpakut, sesekali ku melirik ke arah arloji dipergelangan tangan kiriku. Namun jarum waktu masih bersikukuh diangka 23:45. Kasih kau tahu kenapa aku selarut ini masih terjaga? Aku menunggumu mengucapakan selamat ulang tahun ke-18 padaku, aku tak mungkin melewatkan sedetikpun untuk sekedar membaca kumpulan huruf darimu.

Ting-tong

Jarum waktu sudah menunjuk pukul 00:30 dan dari deretan sms dan telfon tak kujumpai namamu terpampang dilayar handphone ku. Argh mungkin kau hanya lupa, tenang kasih aku masih menunggu.

Aku masih menunggumu!!!

Setidaknya terima kasih untuk mama dan papa yang rela telfon tengah malam ngucapin selamat ulang tahun, dan buat kadonya yang bener-bener berarti.

Terima kasih buat Rega, Winda, Lutfi, reza, Nisa, Ulan, Kak Febi, Fitri dan masih banyak lagi yang gak bisa aku tulis semuanya. You are my best friend. Maafin aku yang sulit mengingat ulang tahun kalian. Otakku mungkin terlalu dangkal.

Dan untuk kau yang masih ku tunggu, ku harap kau tak benar-benar lupa. Aku merindukamu kasih. Dan maafkan aku yang pernah mengecewakanmu. Setidaknya beri aku kesempatan untuk menjelaskannya dan memperbaiki kesalahanku. Aku masih mencintaimu. Aku hanya mengingkari hatiku karena aku terlalu takut melihat kenyataan, aku terlalu lemah memandang perbedaan, aku hanya tak ingin hati ini tersakiti lebih dalam karena perbedaan menyembah Dia.

 

Malang, 17 Agustus 2015